Maaf aku meninggalkanmu di rumah.
Membiarkanmu dirundung gelisah.
Membiarkan ayah tak lekas tertidur memikirkanku.
Apa kabarmu Bu?
Mungkin kini engkau enggan menatap wajahku lagi,
Walau sekedar sosok kecilku dalam pigura di samping meja TV itu.
Walau sekedar membayangkan wajah anakmu ini saat kau memejamkan mata.
Maafkan aku Bu,
Mungkin aku khilaf, mungkin juga tidak.
Semuanya seperti kelebatan peristiwa sekarang.
Orasi kami yang membakar,
Protes menggema.
Meneriakkan lantang tuntutan seperti rekan-rekanku di belahan nusantara lainnya.
Gerak langkah bersemangat.
Mungkin kini engkau enggan menatap wajahku lagi,
Walau sekedar sosok kecilku dalam pigura di samping meja TV itu.
Walau sekedar membayangkan wajah anakmu ini saat kau memejamkan mata.
Maafkan aku Bu,
Mungkin aku khilaf, mungkin juga tidak.
Semuanya seperti kelebatan peristiwa sekarang.
Orasi kami yang membakar,
Protes menggema.
Meneriakkan lantang tuntutan seperti rekan-rekanku di belahan nusantara lainnya.
Gerak langkah bersemangat.
Hingga kobaran api di udara,
Asap membumbung tinggi di atas kepalaku.
Hujan batu,
Teriakkan kemarahan.
Entahlah bu, mereka bilang aku vandalis.
Mereka bilang aku kurang kerjaan.
Mereka bilang semestinya aku berbuat sesuatu yang lebih baik untuk membawa perubahan.
Layaknya mereka sudah sempurna melakukannya.
Mahasiswa. Yang sudah dua kali melepaskan rezim semena-mena di atas nusantara ini. Dua kali. Dan semua seolah sirna, sirna termakan waktu.
…
Ibu,
Aku tak bisa berhenti memikirkanmu.
Entah kegelisahan ayah yang membuatnya marah,
Atau kekhawatiranmu terhadapku.
Sumpah serapah mereka terhadapku.
Ah, aku tak perduli bu.
Betapa jeruji ini memberiku banyak pelajaran.
Bukankah aku dan mereka juga anak Indonesia?
Bukankah aku dan dia memiliki kebebasan yang sama?
Asap membumbung tinggi di atas kepalaku.
Hujan batu,
Teriakkan kemarahan.
Entahlah bu, mereka bilang aku vandalis.
Mereka bilang aku kurang kerjaan.
Mereka bilang semestinya aku berbuat sesuatu yang lebih baik untuk membawa perubahan.
Layaknya mereka sudah sempurna melakukannya.
********
Mahasiswa. Yang sudah dua kali melepaskan rezim semena-mena di atas nusantara ini. Dua kali. Dan semua seolah sirna, sirna termakan waktu. Hanya empat belas tahun untuk membuat semuanya lupa.
Empat belas tahun yang diisi dengan kebebasan, diisi dengan demokrasi. Atas darah pemuda-pemuda dengan almamater.
Empat belas tahun.
Harga-harga melonjak. Sembako tak terbeli. Pemuda-pemudi putus sekolah. Petani yang bahkan tidak bisa menikmati beras yang ditanamnya sendiri. Anak-anak kelaparan di lumbung padi. Nelayan yang menjerit karena harga bahan bakar yang naik membuat kapal-kapal jarang melaut. Dan siapakah yang biasanya tergerak lebih dulu untuk bersuara?
Apakah kelas atas yang sudah hidup enak? Yang duduk di kemudi nyaman sembari mencibir para pendemo? Atau kelas menengah yang sudah merasa sanggup membeli BBM dengan harga enam ribu rupiah per liternya? Sambil Facebook-an di meja kerja?
Sejak kemerdekaan, muncul kebutuhan akan aliansi antara kelompok-kelompok mahasiswa, di antaranya Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), yang dibentuk melalui Kongres Mahasiswa yang pertama di Malang tahun 1947.
Selanjutnya, dalam masa Demokrasi Liberal (1950-1959), seiring dengan penerapan sistem kepartaian yang majemuk saat itu, organisasi mahasiswa ekstra kampus kebanyakan merupakan organisasi dibawah partai-partai politik. Misalnya, GMKI Gerakan Mahasiswa kristen Indonesia, PMKRI Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia dengan Partai Katholik,Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dekat dengan PNI, Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dekat dengan PKI, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (Gemsos) dengan PSI, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berafiliasi dengan Partai NU, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Masyumi, dan lain-lain. [i]
Pada tahun 1965 dan 1966, pemuda dan mahasiswa Indonesia banyak terlibat dalam perjuangan yang ikut mendirikan Orde Baru. Gerakan ini dikenal dengan istilah Angkatan '66, yang menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional, sementara sebelumnya gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan.
Tahun 1998, tepat 32 tahun sejak Sang Proklamator tumbang, gerakan itu menggeliat lagi. Setelah sempat dibungkam berkali-kali pada tahun 70-an, kali ini tidak dapat diruntuhkan lagi. Harus ada yang bergerak, harus ada yang bertindak. Gerakan 1998 menuntut reformasi dan dihapuskannya "KKN" (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998, lewat pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, akhirnya memaksa Presiden Soeharto melepaskan jabatannya. Berbagai tindakan represif yang menewaskan aktivis mahasiswa dilakukan pemerintah untuk meredam gerakan ini di antaranya: Peristiwa Cimanggis,Peristiwa Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II , Tragedi Lampung. Gerakan ini terus berlanjut hingga pemilu 1999.
Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, Hendriawan Sie, mahasiswa Universitas Trisakti, Teddy Wardhani Kusuma, (Institut Teknologi Indonesia), Bernardus Realino Norma Irmawan, (Universitas Atma Jaya), Sigit Prasetyo (YAI), Heru Sudibyo (Universitas Terbuka), Engkus Kusnadi (Universitas Negeri Jakarta), Muzammil Joko (Universitas Indonesia), Muhammad Yusuf Rizal (Universita Lampung), Saidatul Fitriah (Universitas Lampung), dua belas mahasiswa yang tewas di parlemen jalanan.
Dua belas mahasiswa yang memaksa dunia, memaksa nusantara membuka mata akan kejamnya rezim pemerintahan saat itu.
Dua belas mahasiswa yang turut membangkitkan demokrasi ke permukaan, setelah lama dibungkam.
Dua belas mahasiswa yang membuat saya, Anda, mereka, dan semuanya bebas bersuara apapun, bebas menulis apapun dimana saja, bebas memilih saat pemilu, bebas mengeluarkan pendapat. Dan bebas mencibir siapapun tanpa harus takut diculik keesokan harinya.
Pemuda-pemuda yang dilupakan setelah tewas empat belas tahun silam.
Hari ini, 1 April 2012. Harga bahan bakar minyak yang sebelumnya disinyalir akan naik seribu lima ratus rupiah batal dilakukan, setelah DPR-RI yang dikepung ribuan massa memutuskan penundaannya. Ya, hanya sekedar penundaan. Penundaan yang lagi-lagi hanya membuat kita was was menunggu, kapan kenaikan komoditas vital rakyat Indonesia itu melonjak lagi.
Aksi demonstrasi lintas daerah yang sebagian besar diprakarsai oleh mahasiswa Indonesia, rupanya menuai pro dan kontra. Cibiran dan nyinyiran menemani langkah putra-putri menengah bangsa ini.
“BBM naik kok demo. Rokok dua kotak sehari biasa aja tuh,”
Masalahnya tidak semua orang yang merokok toh? Lagi pula, analogi BBM dan rokok terkesan lucu dan tidak substansial. Ketika harga rokok naik, apakah kemudian harga minyak goreng naik? Apakah kemudian harga bahan pokok, tarif listrik, tarif angkutan umum, biaya sekolah, kebutuhan primer dan sekunder juga ikut naik? Jelas tidak. Komentar seperti ini sangat tidak substantif, karena ketika harga BBM naik, otomatis harga-harga kebutuhan pokok juga melonjak. Pelajaran yang sudah kita dapatkan saat krisis moneter melanda Asia era 90-an lalu.
“Ngapain sih demo? Mau masuk tivi?”
Demonstrasi adalah bagian dari aspirasi. Aspirasi dapat disampaikan dalam berbagai macam bentuk. Di era demokrasi ini, mahasiswa sudah sering menyampaikan aspirasinya dalam banyak bentuk. Stasiun televisi sudah sering melibatkan mahasiswa dalam banyak segmen acara, baik menyampaikan pandangan, maupun mengajukan pertanyaan bagi birokrat pemerintahan daerah melalui sesi Tanya jawab. Untuk masuk tivi, tidak perlu berdemonstrasi. Momen demonstrasi yang marak dilakukan mahasiswa di belahan nusantara beberapa hari terakhir adalah buah dari kebijakan pemerintah yang akan menaikkan harga BBM. Bukan demonstrasi asal-asalan untuk masuk tivi. Demonstrasi toh tidak setiap hari.
“Ngapain sih demo? Mending berprestasi deh banyak-banyak, banggakan kampus!”
Pernyataan yang cukup singkat untuk menanggapi komentar yang ini adalah : Anda sendiri sudah melakukan apa untuk kampus? Sudah punya berapa prestasi yang membanggakan? Menyuruh orang lain untuk instropeksi diri tanpa melihat kepada diri sendiri pun bagi saya sangat tidak bijaksana. Berbuatlah sesuai dengan keinginanmu, demi keuntungan bangsamu. Baik dari segi prestasi akademik, membuat jurnal-jurnal ilmiah dan tulisan untuk merubah paradigma masyarakat, serta demonstrasi turun ke jalan, adalah pilihan dari masing-masing mahasiswa, biarlah kalian saling membagi tugas untuk memajukan bangsa kalian. Kalian semua adalah agen of change. Agen perubahan yang menggunakan caranya masing-masing. Jangan lupa bahwa sebanyak dua kali dalam sejarah panjang bangsa ini, diselamatkan oleh pendahulu kalian melalui langkah berdemonstrasi. Berhentilah menggeneralisasi bahwa demonstrasi mutlak adalah tindakan anarkisme berbuah vandalisme oleh sekelompok mahasiswa susah diatur.
“BBM naik 1500 aja rusuhnya minta ampun, bukan sepuluh ribu seliter kok,”
Hampir bisa dipastikan bahwa kelompok orang yang berkomentar seperti ini adalah warga kelas menengah yang setidaknya tidak terhimpit kesulitan hidup. Bagi kelompok masyarakat yang terbilang mapan, dengan sedikit tindakan kenaikan harga BBM dapat mereka atasi.
Namun tidak bagi anak-anak Indonesia di kantung-kantung kemiskinan.
Tidak bagi 29,89 juta orang rakyat miskin yang akan semakin terbebani dengan melonjaknya harga bahan pokok dan kebutuhan primer.
Tidak bagi anak-anak Indonesia di pulau terluar Nusantara yang berdiri tegak hormat kepada Sang Saka Merah Putih yang berkibar lusuh di tiang kayu, di depan sekolahnya yang beratap bocor, dengan kaki tegap menapak bumi tempatnya dilahirkan, tanpa sepatu, tanpa seragam.
Tidak bagi anak-anak Indonesia yang menantang derasnya hujan, memeluk kresek lusuh berisikan koran untuk dijual, mengetuk lirih kaca mobil yang kalian tumpangi, tanpa alas kaki, menarik minatmu untuk membeli koran yang dijualnya, membayangkan senyum ibunya dirumah ketika ia membawa uang lima ribu rupiah untuk membeli lauk esok.
Tidak bagi petani kecil di pelosok nusantara yang sering dipermainkan oleh spekulan tengkulak.
Tidak bagi nelayan di pinggir nusantara yang kebingungan melaut, karena kapal akan semakin jarang berlayar karena bahan bakar melonjak naik, bahkan langka untuk didapatkan.
Tidak bagi para pemuda-pemuda desa yang bercita-cita menuntut ilmu di kota. Namun harus pupus harapannya untuk memperkuat barisan intelektual Indonesia karena dana pas-pasan, dan semakin tingginya biaya hidup.
Bagi kaum menengah apatis yang memiliki kemampuan finansial mapan, semua tidak akan pernah jadi masalah.
Dan yang paling penting, bagi kaum menengah apatis yang memiliki kemampuan finansial mapan, tentu mudah bertindak egois untuk berkata, “Ah, sekedar naik 1500 kok.” Tanpa melihat sisi lain dari masyarakat nusantara yang disulitkan.
“Halaah! Demo itu Cuma ajang kekerasan!”
Memang benar bahwa tidak jarang aksi demonstrasi mahasiswa berbuah kekerasan dan kericuhan. Tapi itu tidak menjadi alasan bagi kita untuk menyamaratakan seluruh mahasiswa sebagai dedengkot kekerasan susah diatur. Saya melihat, aksi demonstrasi yang sering berbuah ricuh jadi santapan nikmat para pihak yang sudah lama frontal dengan mahasiswa. Dengan gamblang memukul rata secara keseluruhan bahwa mahasiswa adalah antek-antek liberal yang mengesampingkan hak-hak masyarakat lain, bahwa mahasiswa adalah momok, bahwa seluruh mahasiswa adalah sama : antek demokrasi yang kebebasannya bablas. Bahkan tidak jarang mereka berujar, “Mending jaman Soeharto! Mahasiswa kaya kalian gak bakal bisa apa-apa! Mati saja kalian!” Seolah mereka sudah berbuat lebih baik untuk bangsa, seolah mereka sudah sukses mengembangkan dirinya menjadi orang berguna, seolah mereka bisa berargumen dengan bebas, beraspirasi di media sosial dengan begitu bebasnya jika kita hidup di rezim Orde Baru. Rezim yang pendahulu kalian runtuhkan. Rezim yang pendahulu kalian runtuhkan dengan air mata, dengan darah yang mengering di almamater mereka, dengan darah yang tertumpah di atas tanah ibu pertiwi, di depan kampus tempat mereka menuntut ilmu. Vandalisme harus dilawan. Kekerasan harus dicegah. Tapi memvonis bahwa seluruh mahasiswa adalah antek vandal susah diatur tetap tidak dapat dibenarkan.
“Mahasiswa aneh, demo kaya didengar pemerintah saja,”
Di atas adalah pandangan kelompok yang punya beberapa kemungkinan, antara tidak pernah mendalami sejarah, bahwa aksi mahasiswa yang seringkali mendesak pemerintah untuk membuat keputusan, bahwa demonstrasi besar-besaran, orasi bergemuruh secara nasional pernah meruntuhkan rezim kuat di Indonesia sebanyak dua kali, atau tidak mengetahui bahwa rezim kuat lintas negara seringkali diruntuhkan oleh people power yang sebagian besar diprakarsai oleh mahasiswa setempat. Contoh yang paling anyar adalah revolusi Mesir, Tunisia, Libya, penolakan besar-besaran oleh demonstran Kaos Merah di Thailand terhadap Operasi Militer. Semua pergerakan tersebut digagas oleh pemuda-pemuda melalui satu tindakan : demonstrasi.
Perlu ditanggapi panjang lebar? Jelas tidak perlu.
“Demo yang tidak berguna,”
Masih tidak perlu disanggah dengan pernyataan panjang lebar mengingat sudah banyak pembuktian dijabarkan sebelumnya. Kali ini, demonstrasi bukan sekedar berbicara kenaikan bahan bakar minyak. Melihat kondisi negara yang marak akan korupsi, kasus hukum yang justru menjerat antek pemerintahan, penegakkan hukum yang tidak benar dan berat sebelah, sekedar berlaku bagi rakyat biasa namun mandul terhadap pejabat dan pemerintah atas adalah pemicu dendam yang terpendam dan berkali-kali telah diredam. Kenaikan bahan bakar minyak, penolakan terhadap pasal 7 ayat 6 (a) Undang-undang APBN, hanya sebuah momen. Sama seperti momen penolakan mahasiswa terhadap RUU Penanggulangan Keadaan Berbahaya (PKB) empat belas tahun silam yang turut berisikan protes terhadap rezim tangan besi, dan KKN selama 32 tahun lamanya.
Sudah terhitung 24 jam sejak saya melepas status mahasiswa. 24 jam pula saya habiskan untuk berpikir keras. Apa yang bisa saya lakukan untuk merubah paradigma masyarakat? Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki kesalahan persepsi yang terjadi? Apakah kemudian saya harus turun ke jalan? Jelas tidak.
Kaum intelektual, punya pilihan dan jalan perjuangan masing-masing. Perjuangan yang harus dicoba, agar menuai hasil yang maksimal. Mereka yang turun ke jalan, telah memilih jalannya untuk menyuarakan aspirasinya secara langsung, untuk mendapatkan perhatian pemerintah yang kerap kali tuli. Ada yang membanggakan kampusnya melalui kancah kompetisi akademis tingkat nasional, ada yang giat menulis, seperti yang sedang berusaha saya lakukan. Ada pula yang turun ke jalan. Berbagi tugas lah kalian. Berbagi tugas sesuai dengan porsi tanpa harus meremehkan pilihan masing-masing.
Dahulu, para mahasiswa pendahulu berjuang melawan senjata. Berjuang melawan kekerasan militer yang berusaha membungkam mereka. Berjuang melawan rezim Orde Lama dan Orde Baru yang menekan mereka dari kebebasan beraspirasi. Musuh mereka sangat jelas. Musuh mereka nampak dengan wujud yang begitu nyata di depan mereka. Pelaku-pelaku kejahatan HAM yang tidak diadili, penembak misterius, penculik-penculik aktivis yang tidak pernah kembali ke pangkuan ibundanya hingga kini.
Musuh pemuda yang meneriakkan keadilan saat ini akan lebih sulit. Penghalang itu, adalah kaum sendiri. Saudara sedarah sendiri yang tumbuh ditengah-tengah masyarakat heterogen seperti kita. Saudara yang bahkan dua tahun lalu masih bersedia berdiri disebelah kita.
Kini, kita diadu dengan sikap apatis. Kita diadu dengan mereka yang cenderung tidak perduli, mereka yang cenderung berpikir bahwa selama mereka masih bisa makan, masih bisa memiliki kendaraan, persetan dengan warga miskin yang lainnya. Penganut apatisme yang sekedar berpikir tentang “aku”. Bukan Indonesia.
Mereka yang sekedar berpikir selama asap dapurnya mengepul, persetan dengan kenaikkan bahan bakar minyak, walaupun itu bisa membunuh anak-anak Indonesia di pelosok nusantara.
Tugas berat? Jelas. Maka kita semua sebagai pemuda Indonesia seyogyanya melakukan satu hal yang paling penting, sebelum menghujat para pemuda yang turun ke jalanan.
Kita, intelektual muda Indonesia harus memerangi sikap apatis, sikap tidak perduli, sikap egois. Dapat dimulai dengan menjalankan pilihan kita sebaik-baiknya, semaksimal mungkin.
Dimulai dengan kuliah dan sekolah bersungguh-sungguh, turut memperhatikan perkembangan situasi politik dan ekonomi negara, memahaminya dengan benar agar tidak asal cablak dan bicara lalu menghujat tanpa memahami substansi dan permasalahan. Berusaha untuk merubah paradigma masyarakat akan berbagai persepsi yang salah melalui tulisan, diskusi atau sekedar mengutarakannya melalui media sosial yang sedang marak.
Bagi yang enggan melakukannya, tidak apa. Setidaknya berhentilah berpandangan sepihak. Setidaknya berhentilah bersikap egois. Berhentilah menggeneralisasi para pemuda Indonesia hanya karena satu kejadian ricuh. Atau setidaknya, berhentilah menghujat dan mencibir. Cukup sebarkan pemikiran bahwa demonstrasi yang vandalis adalah tindakan yang mengganggu, doakan saja mereka yang dianggap kebablasan dalam berdemokrasi agar sadar dan nantinya sanggup berpikir jernih
Stop saling menghujat antar pemuda Indonesia. Stop saling menghina antar pemuda Indonesia. Masa depan Indonesia berada di tangan kita semua saudaraku, pemuda-pemuda yang terpecah belah bukan awalan yang benar untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik. Indonesia yang menjadi rumah bagi 250 juta manusia.
Musuh pemuda bukan polisi.
Musuh pemuda bukan aparat keamanan.
Musuh pemuda bukan kawan-kawan sesamanya.
Musuh pemuda adalah apatisme, ketidakpedulian, kebodohan, ketidakadilan, dan penderitaan rakyat Indonesia yang terbungkam.
*****
…
Ibu,
Aku tak bisa berhenti memikirkanmu.
Entah kegelisahan ayah yang membuatnya marah,
Atau kekhawatiranmu terhadapku.
Sumpah serapah mereka terhadapku.
Ah, aku tak perduli bu.
Betapa jeruji ini memberiku banyak pelajaran.
Bukankah aku dan mereka juga anak Indonesia?
Bukankah aku dan dia memiliki kebebasan yang sama?
Biarlah mereka menyebutku apa.
Biarlah mereka mengutukku karena tindakanku sesekali.
Biarlah mereka memilih menutup mata terhadap korupsi yang merajalela.
Biarlah mereka apatis terhadap ketidak adilan, penegakkan hukum yang tak berimbang terhadap kaum pinggiran.
Biarlah mereka menutup telinga dari jeritan kemiskinan yang dimana-mana.
Biarlah mereka berpikir bahwa negeri ini sudah ada yang mengatur.
Biar pula mereka berpikir bahwa aku kaum penghancur.
Biarlah bu, biarlah.
Setidaknya katakan pada adikku,
Ketika nanti kalian bertemu anak-anak berpakaian lusuh yang menjual koran di pinggir jalan
Ketika nanti kalian menyaksikan warga miskin berebut zakat berdesakkan sampai jatuh korban meninggal
Ketika nanti kalian melihat warga miskin dari pelosok nusantara yang pindah ke kota, mengadu nasib menjadi pemulung.
Ketika nanti kalian menyaksikan anak-anak Indonesia belajar di bawah derai hujan, menuntut ilmu di bawah atap sekolah yang bocor.
Atau ketika kalian melihat pria-pria tua yang mendorong gerobak di bawah matahari yang membakar wajah dan tubuhnya,
Bahwa aku tidak diam melihat mereka.
Bahwa aku tidak memilih apatis dan berdiam diri saat mereka akan dicekik kebutuhan hidup yang siap melonjak.
Aku tidak memerlukan pandangan para apatis itu.
Katakan pada adikku, bahwa dalam dinginnya sel yang kudiami ini,
Aku pernah memilih untuk bergerak daripada sekedar diam dan menyaksikan.
Dedicated to :
Kawanku Natalis L Wada. Tuhan bersamamu.
Atau ketika kalian melihat pria-pria tua yang mendorong gerobak di bawah matahari yang membakar wajah dan tubuhnya,
Bahwa aku tidak diam melihat mereka.
Bahwa aku tidak memilih apatis dan berdiam diri saat mereka akan dicekik kebutuhan hidup yang siap melonjak.
Aku tidak memerlukan pandangan para apatis itu.
Katakan pada adikku, bahwa dalam dinginnya sel yang kudiami ini,
Aku pernah memilih untuk bergerak daripada sekedar diam dan menyaksikan.
******
Dedicated to :
Kawanku Natalis L Wada. Tuhan bersamamu.
